Monday, February 8, 2010

Seafood dan Suki di BSD

SEAFOOD
Ah...lidah saya sudah lama merindukan taste makanan laut. Kebetulan, rapat APISI yang hanya bisa dihadiri oleh penduduk Serpong, diputuskan untuk diadakan di daerah Mal BSD. Di sini ada sebuah rumah makan yang terletak di pojok gedung tempat rentetan gerobak makanan dan pondok makan berada. Namanya Jamal Portal. Tempatnya tidak terlalu besar, dan pelanngan yang menikmati santapan di sini akan menikmati semilir angin di ruangan terbuka.

Setibanya di sana, pembeli dapat memilih jenis hewan laut apa yang hendak di santap. Inilah pesanan kami....yummmmmyyyyy:












SUKI
Ada suki enak di Teraskota, BSD. Letaknya di lantai satu, persis di sebelah kanan pintu masuk utama. Namanya, U-Suka Suki. Dimsum dan Suki Restoran. Rasanya enak, karena untuk sajiannya, mereka memberi dua pilihan rasa untuk kuahnya, rasa ayam dan tom yam. Kami memesan baso salmon, lumpia ikan, tahu jepang udang, serta sayuran baby pakchoy. Dengan dua mangkok nasi putih dan semangkuk sup jagung kepiting serta jus alpukat dan fresh orange, total pesanan kami bertiga adalah seratus enam puluh satu ribu rupiah saja. Kami kenyang, puas dan lidah kami termanjakan dengan rasa suki yang cukup beragam ini.

Wednesday, November 11, 2009

Ikan Patin Bakar dan Tahu Kipas

Tujuan tempat makan kali ini adalah salah satu rumah makan Indonesian food di jalan Mampang Prapatan, Warung Buncit.



Ini salah satu foto dinding rumah makannya.

Nah, ini menunya:

Cah baby kailan dan somay


Ini ikan patin bakarnya


Tahu Kipas
Satu tahu ada lima udang di dalamnya.


Jus Mangga
Ada potongan-potongan buahnya


Jus Jamsir
Jus Jambu Sirsak


Ada yang tidak ada di foto tapi juga yummy, Jus Duren Montong. Hmm...lumayan lah, ikan patinnya lumayan enak, asal hati-hati, ternyata ada juga tulangnya.Most of all, yang paling mantab nampanknay Tahu Kipas-nya. Yuummmyy....

Friday, March 13, 2009

yummy...yummy

Akhir minggu. tiba-tiba teringat dengan beberapa hidangan yang yummy...yummy...ada yang di Makassar, di Plaza Semanggi, sampai di jalan Raya Jombang Ciledug. Check this out!

Makassar, Jalan Irian
Mie pangsit nyuknyak dan somainya, manteb. Waktu itu makannya pulang gereja, pas hujan, dan minumnya air jeruk es. Manteb dah. Sayangnya ini untuk kalangan terbatas. Ngerti kan maksud saya ;-)

Wednesday, January 28, 2009

Bandung: wisata akhir minggu untuk pemula...

Tekad bulat untuk refreshing di akhir minggu panjang perayaan Tahun Baru Cina sudah bulat. Kepenatan pekerjaan dan tuntutan kerja yang bertubi-tubi membuat saya benar-benar ingin 'keluar'. Belum tahu kemana, tapi dengan situasi yang agak mendadak ini mungkin tujuan keluar tidak akan jauh dari Jakarta.

Terima kasih untuk Andy Bahtiar, yang begitu sabarnya menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan ngga penting saya tentang Bandung. Saya mencoba mencari guest house murah meriah di Bandung lewat saran Andy. Sayangnya, Tamara, GH incaran saya tidak menerima pemesanan kamar lewat telpon. Kebanyakan yang pada ngga dateng, bu demikian jawan Ina, yang menerima telpon saya kala itu.

Penentuan tempat tujuan juga sempat berubah menjadi Garut, yang ada permandian air panasnya. Billy mencoba untuk memesan kamar, namun tiga hari sebelum week end juga ternyata sudah penuh. Jadi, dengan mencari-cari tempat sambil memikir-mikirkan apa yang akan kami lakukan di Bandung, niatan untuk berangkat ke Bandung semakin bulat.

Sayangnya, Jumat malam, setelah saya membeli keperluan logistik anak-anak, rencana untuk berangkat malam itu juga terpaksa batal. Alhasil, semua tertidur. Saya sempat ragu bahwa rencana ini akan berjalan. Dengan tanpa paksaan, Sabtu pagi, ritual berjalan seperti biasa. Tepat 8.30 pagi semua selesai mandi dan siap berangkat.

BANDUNG, kami datang!
Perjalanan santai kami lalui di tengah-tengah lalu lintas yang cukup lengang. Perhentian pertama adalah di tempat istirahat tol km 19. Pilihan restoran kami jatuh pada makanan Sunda. Meskipun Fia tetap memilih mie bakso dan Yosua nasi goreng. Billy memesan sepiring soto ayam. Ayam bakar dan lalap serta semangkuk sayur asam menggugah selera makan siang saya saat itu.

Fia, semangkuk bakso dan es lemon tea..



Ini pesanan saya...ayam bakarnya enak!

Makan siang kami akan sempurna jika satu peristiwa mengesalkan ini tidak terjadi. Saat pesan nasi goreng untuk Yosua, kami sudah wanti-wanti, jangan pedas. TErnyata, nasi goreng bernuansa merah dan ada potongan cabe merah di atasnya. Langsung saya kembalikan dengan mempertegas bahwa kami pesan nasi goreng yang tidak pedas, karena akan dimakan anak saya yang masih kecil. Selang berapa saat, keluar nasi goreng yang baru (oh ya nasi goreng yang saya tolak tadi berpindah ke meja sebelah...padahal kerupuknya sudah disunat Yosua...ya ampunnn!!!!) tidak ada irisan cabe merahnya tapi nuansanya tetap merah. Setelah diicipi juga masih pedas. Alhasil, pesanan ketiga adalah ayam bakar seperti menu saya. Sayangnya selera makan Yosua sudah hilang. Jadi ia makan seadanya tanpa menikmati menu pesanan barunya itu. Sesegera mungkin kami meninggalkan tempat itu.\

PErjalanan kami lanjutkan dengan menelponi hotel-hotel yang kami tahu. Pastinya, ALL BOOKED! Dengan pemikiran kemungkinan kami akan pulang kembali malam itu, kami berencana melakukan trip ke Bandung Selatan yaitu Ciwidey. Ternyata, perjalanan dari tol Kopo ke Ciwidey masih memakan waktu kira-kira satu setengah jam. Sedangkan saat itu kami masih belum dapat tempat tinggal. Terpaksa kami batalkan dan hujan pula.
Wah seharusnya saya mencari tahu lebih jauh lagi, berapa lama perjalanan dari keluar tol hingga Ciwidey. Kecolongan saya...

Tiba di kota Bandung, kami masih keukeuh mencari tempat penginapan. Sepanjang Dago - Ir Ahmad Yani, penuh. Dengan kenekatan dengan keyakinan bahwa Tamara GH menerapkan sistem first come first serve kami mencari alamat GH tersebut. Setibanya di tempat ini, saya teringat rumah Opa Cak di Kebayoran Baru dulu. Bangunan sederhana dengan style kuno, menyapa kedatangan kami. Pemiliknya seorang opa-opa agak bule ditemani dengan seorang ibu. Akhirnya kami dapat menempati sebuah kamar triple untuk kami menginap. Wah senangnya...Rumah seperti rumah tinggal ini memang benar-benar GH. Sederhana, namun bersih. Nampak sepi dan kami beruntung, karena di lantai 3 kamar kami berada, tiga kamar tetangga kami ternyata kosong. So, teve yang diletakkan di ruang tengah, serasa milik kami. Kamar sederhana berbilik bambu ini bersih, dan yang penting, kamar mandinya juga bersih. Ada air panas pula. Malam itu, kami beristirahat di Tamara GH setelah seharian bergumul dengan pencarian tempat menginap, bahkan hampir pulang lagi.

Andi dan peta
Tidak disangka pada pagi harinya, mba Ina memberitahu saya kalau Andi sudah dibawah. ya ampun ternyata ia mengantar peta Bandung, dan menjadi guide kami menuju Cisangkuy untuk makan pagi sebelum ke Taman Lalu Lintas. Wah...ramai dan padat sekali pagi ini. Ada pasar tumpah yang menjual segala barang-barang. Belum orang yang berjualan makanan di tepian jalan. Kami sempat melewati sop buah pak Ewok di depan Gedung Sate ini. Untunglah setelah satu kali putaran Gedung Sate, kami mendapat tempat parkir yang tidak jauh dari Yoghurt Cisangkuy. Makan pagi pun kami mulai..

Satenya...yummy! Fia dan Yosua: Hmm...ini yoghurt Cisangkuy pertama ku satu rasa vanila, satu lagi rasa leci..plus pake buahnya..

Alhasil, untuk makan pagi ini menu kami selain minuman yoghurt, kue tempo dulu, brownies kukus kami juga memesan sate pake lontong, batagor dan tahu isi rupa-rupa (ada isi kornet, udang, sosis. Asli kenyang. Kami melanjutkan perjalanan ke..

Taman Lalu Lintas
Fia dan Yosua senang bermain di sini. Ini kali ke dua mereka mengunjungi tempat ini. Mereka sudah tahu apa yang akan mereka lakukan disini. Main sepeda, flying fox dan lompat-lompat.


Sayangnya, tempat ini kurang serius terhadap P3K. Aktifitas yang ditawarkan sesungguhnya riskan dengan luka-luka kecil, tapi setelah keliling mencari band-aid di kantor sekretariat maupun Pos P3K, benda kecil penting ini tidak ada. Hal ini membuat Yosua, yang tanganya sedikit terluka karena jatuh dari sepeda, hilang semangat untuk bermain flying fox. Alhasil, kita keluar dari TLL ini dan muter-muter mencari 'jalan keluar' sampai akhirnya kita mamapir ke salah satu FO di jalan masuk GH kami. Rencananya mau melihat-lihat FO FO yang ada di jalan Dago, tapi kami batalkan rencana kami karena antrian mobil di mulut jalan itu. Lelah bermain dan mencari baju di FO, kami putuskan makan di Pizza Hut. Sudah tidak kuat lagi mencari tempat atau hunting makanan di tempat lain.


Thursday, November 27, 2008

This time is for MY COUNTRY, INDONESIA!!

ICOLIS…who’s going to present the paper from Indonesia?

Finally it was decided that I’m going to present Indonesian‘s paper at ICOLIS, Malaysia. The collaboration paper from the three of us finally finished and a presentation in ppt was being made. Well...having two hats on my head now put me at the situation where conflict of interest happens. I have my main responsibility to be working at BIS and it is my moral responsibility as a citizen of Indonesia as well as an information professional from Indonesia to speak up at the international level. I was OFFERED to take the opportunity. What were the consequences if I ignored the request? Nothing! The nation remains the same nations. The information literacy still becomes our business in APISI and the rest are going on as usual. What’s the deal? Or what the consequences were if I take the opportunity? The school may not be letting me going as The Libraries Manager already in there to attend the conference. It has been decided for her to go. Not me. We agreed with that. That was why I was not preparing for the paper to submit. Even though I proposed my annual leave to attend this conference, it’s going to be a big deal for school! I chose the last one….



The paper

The writing actually made up by Diao Ailien, Ph.D, Umi Proboyekti, S.Kom, MLIS and I. We came to an agreement that we’d like to take this opportunity to write up together for Indonesian's paper. Although it was not decided who’s going to present it. So, each of us wrote our own experience. Ibu Ailien and her team was the fist people who brought and introduce IL to schools and university since 2005. Then the application at the university experience was told by ibu Umi from UKDW, Yogyakarta. From APISI point of view, the sharing of promoting IL around the archipelago was written down. So, it became a one paper. It is my task next to maintain the coherent and the flow of the writing. I tried my best to make it into one wholly paper, not one paper written down by three persons. It was done. Ibu Ailien and Ibu Umi also helped out with the ppt. Done. It took about two weeks until all prepared.



Seeking the support

Now, the ticket, airport tax and fiscal must bee sought. Who’s going to pay? I called Pak Surya Dharma and explain about this thing. It didn’t take a long time for him to give me funding. Well..the amount of money is enough to pay fiscal, airport tax, local transportation and half of my ticket fares. The other half amount, I got the green light from pak Subahi. The important thing was the permission given by BIS who granted me this opportunity as my professional development. Thank you BIS especially Mr Davies who has given me a fully support on my attendance to this conference. The presentation went well. The one day trip on Wednesday November 19th, 2008 was not felt so tiring as I covered with the satisfaction for accomplished the mission. One thing for sure was Indonesia is moving forward. On the way back home to KLIA, I remember when the first time I presented IL in Indonesia at I-WIL, Petaling Jaya in 2006, the level of IL implementation was very low. In the time span afterwards, there were lots of developments being made and are going on…Lots of achievements made together from association profession, National Library, Ministry of Education, schools and universities to make this country even better and smarter [not because I got supports from Ministry of Education and National Library to attend this conference. But it truly happened…]

BTW, I may say this is the first writing on the initiative of IL history in Indonesia. Any comment anyone??



[thanks for the photos Boom and em!]





Sunday, August 24, 2008

The Second Chance of Holiday @ Yogyakarta

It’s a kind of tradition in my husband's office to have family day/s if they have succeed achieving their goals or even breaking the turning point in their sales business. This time, the company had planned to have Indonesia Sales and Marketing Meeting 2008, August 16-18 in Yogyakarta. Well, I think it would be a great benefit for the whole family members to celebrate this achievement of their husbands and their fathesr (it happened to be the employee are men)…

And the adventure began…

DAY 1 – August 16, 2008
We must admit that we were looking forward of these days, although the children had to sacrifice the Independence Day celebration in our children’s school. Hope the school could understand this.
We went off to the Airport Sukarno-Hatta, again, in hurry like last time to Bali. My husband decided to take his car to the airport and parked it in there. It means, he had to find the parking area and of course it took more time to wait…..
Children and I had to check in first. This time, I excuse the two people who broke the queuing lines to keep extending the time until my husband arrived. Just in time, I passed over the ticket from the exit door to enable him enter in the room. Phheeiuuhh…5 minutes to boarding.
The Lion Air postponed the departure time about 25 minutes. We met my husband’s colleagues and their family there. Finally, we went aboard and off we go for Yogyakarta’s adventure.
When we arrived in Adi Sucipto Airport, a hotel driver has been there to pick us up. It took only 20 minutes until we arrived in Melia Purosani. The hotel looked so busy and we had to wait for our room til it ready. So we decided to went walking and found a recommended satay restaurant about 500m away from the hotel.
While we were there, I called mba Othie and Pak Halim to come to the hotel to pick up their stuff. Well, 30 minutes before Welcoming Meeting started. Nice to have meeting with them although only in a very short time.
Don’t you think that you could lay down and relax after that! The committee has arranged a program for us to spend that evening.
First, We had our dinner in Arirang Restaurant. It was supposed to be a Korean Resaturant but the food were Indonesian ones. The owner is Korean and one of family member was really nice and kind in welcoming the restaurant visitors. There were also playground for children with bikes, slides, hula hup rattan ring. So most of the children spent to play in there until a calling that we had to get on the bus again.
The bus took us to see Ramayana Ballet Show near Prambanan Temple.

Scenes from Ramayana stage:



DAY 2 – August 17, 2008

Sambi Ledok

A nature place for outbound in Kaliurang area. They have trained staff for adults and children. Before we started, Off The Job Traning should be carried out for mums and children.

Off the Job Safety Training:



Thank you pa i mean Pak Billy so from now on we really have to be carefull with the danger stuff at home and of course...seat belt to be put on ALL THE TIME!!!

Outbond Games
Children then joined so many outdoor activities there such as fishes catching, cow milk squeezing and rice planting. They also enjoyed playing in the river...

Borobudur Temple
As we had been to this place before, we prefer to save our energy by taking first steps going up and rest...

DAY 3 – August 18, 2008
The day was the last day for mums and children in Yogyakarta. Some of us had to fly back to Jakarta via Yogyakarta, and some of us via Solo. We decided just to relax at the hotel room, watching tv and pack up our stuff. While I’ve heard others were going to Malioboro and Mirota.
After having lunch together, a car has picked up us to take us to Solo. Our husbands waved us goodbye, as they had to stay and continue their meeting there.
We wish them every success…
[so that we could go somewhere else in the future!! ;-)]
Thank you DuPont!!

Tuesday, August 12, 2008

Jelajah ke Pantai Utara Bali

Pilihan tempat liburan kali ini jatuh ke Bali. Salah satu pertimbangannyanya karena tawaran penerbangan economy promo Air Asia pada bulan April. Hitung punya hitung, rasanya liburan ke Bali cukup membayar harga karena selama seminggu awal Juli, anak-anak akan ditinggal untuk satu minggu untuk pelatihan APISI di Bogor. Dengan penyesuaian yang ada, pilihan tanggal jatuh di akhir bulan Juli, sebetulnya waktu anak-anak sudah masuk sekolah. Apa boleh buat, harus ada yang mengalah. Tak apalah kali ini memberi ijin mereka untuk tidak masuk sekolah karena berlibur....

Awalnya, Yosua mengaku takut untuk naik pesawat. Rupanya, berita kecelakaan jatuhnya pesawat di teve, membuatnya terpengaruh. Kami berusaha meyakinkan bahwa kecelakaan dapat terjadi di mana saja sehingga tak perlu takut kalau pesawatnya akan jatuh. Persiapan mental beberapa waktu sebelum bepergian rupanya cukup ampuh mempersiapkan Yosua. Kegirangan untuk berlibur di pantai jauh lebih memikat hatinya daripada ketakutannya untuk naik pesawat.

Hari Pertama – 29 Juli 2008
Rasanya sudah tidak sabar lagi menanti sore. Kami sudah menanti-nantikan hari keberangkatan ini sejak tiga bulan lalu. Akhirnya, pukul 5 sore kami meninggalkan rumah menuju bandara dengan menggunakan mobil. Rencananya, mobil akan kami inapkan di bandara. Kami tiba tepat waktu, meskipun di perjalanan kendaraan agak padat, dan kami agak-agak kawatir kalau tiba terlambat.

Setelah check in di counter Air Asia, kami bergegas menuju ruang tunggu. Waktu penerbangan tidak mengalami perubahan jadwal. Syukurlah. Dan kami pun berangkat menuju Denpasar, Bali. Setibanya kami di bandara Ngurah Rai, kami memesan taksi menuju Hotel Adhi Jaya untuk menghabiskan dua malam pertama liburan kami.

Hari Kedua – 30 Juli 2008
Hari ini kami memutuskan untuk bersantai di hotel dan pantai Kuta, yang tidak jauh letaknya dari hotel ini. Setelah sarapan pagi, anak-anak bersiap untuk berenang di kolam renang hotel, dan kami menikmati hari dengan membaca buku dan rileks di tepi kolam.

Saya mendapatkan peta Bali dari hotel dan bersiap untuk mengatur perjalanan kami menuju pantai utara, Lovina, Singaraja. Untungnya, pihan hotel telah memberi pilihan tempat-tempat mana yang dapat disinggahi jika kita hendak melakukan perjalanan ke utara lengkap dengan perkiraan waktu yang akan dihabiskan. Informasi tentang tempat makan dan tempat wisata yang direkomendasi dari tante Eko lumayan memberikan masukan juga. Terima kasih tante Eko! Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat pagi hari dari Kuta menuju Tanah Lot dan Bedugul sebelum tiba di Hotel Aneka - Lovina. Rencana perjalanan pulang kami adalah Lovina, Air Sanih, Kintamani (Danau Batur), Ubud, Pantai Sanur, mampir di Erlangga untuk sekadar membeli oleh-oleh kemudian ke airport. Rencana perjalanan, selesai.

Untuk makan siang hari ini, cukup mampir ke Discovery Mall yang letaknya tepat di depan hotel kami. Pilihan jatuh pada KFC dan Roti Boy untuk penganan. Setelah itu kami menuju pantai Kuta lengkap dengan mainan pasir anak-anak. Untungnya siang itu agak mendung. Pantai Kuta tidak terlalu banyak dipenuhi orang. Beberapa gerombolan anak sekolah dan turis berseliweran. Anak-anak bermain ombak dan pasir.

Kami memutuskan untuk menunggu matahari terbenam di Pantai Kuta sebelum kembali ke hotel. Ketika melewati tangga Discovery Mall,tampak pertunjukan musik oleh dua orang penyanyi dan seorang musisi di atas panggung yang telah disediakan. Alunan musik indah ini semakin romantic karena dilatar belakangi pemandangan alam yang begitu indah yaitu potret hidup matahari terbenam. Aih....

Sunset di Pantai Kuta


Hari Ketiga – 31 Juli 2008
Terima kasih untuk mba Rini dan bli Nyoman yang mengusahakan transport kami menuju Lovina. Pak Denni sudah siap sejak pukul 8 untuk mengantar kami. Setelah sarapan, kami pun check out dari hotel dan memulai perjalanan kami. Sesuai rencana, tujuan pertama kami adalah Tanah Lot. Sepanjang jalan menuju Tanah Lot, hamparan padi yang luas memberi pemandangan baru bagi kami. Warna hijau dan kuning terbentang indah sejauh mata memandang ke kanan atau ke kiri. Kadang, kami melihat beberapa orang dengan baju adat lalu lalang di tepian jalan. Ada upacara adat. Menurut pak Denni, upacara ini dilakukan berbeda waktu dari satu desa dengan desa lainnya. Kami menangkap suasana desa yang jauh dari hiruk pikuk. Hampir tidak dapat kami temui gedung – gedung perkantoran seperti di Jakarta, atau keramaian kendaraan mobil atau motor yang memicu kemacetan. Tenangnya kehidupan di sini. Akhirnya kami tiba di Tanah Lot. Setelah membayar tiket masuk, kami berjalan menyusuri jalan yang banyak pedagangnya di sisian jalan. Rasanya pukul 10 pagi adalah waktu yang tepat, karena belum banyak kami jumpai para wisatawan lain di tempat ini.



Puas menikmati pemandangan dan mengambil gambar di Tanah Lot, perjalanan kami teruskan menuju Bedugul. Perjalanan kali ini berbeda dengan sebelumnya. Jalan yang menanjang dan tikungan yang curam mewarnai perjalanan kami. Udarapun mulai dingin. Kami tiba di Danau Bratan. Danau ini kalau dikelilingi bisa sepanjang 12 km. Untuk itu, pihak pariwisata melengkapi beragam jenis perahu bagi pengunjung yang ingin menikmati pemandangan alam sekitar danau. Kami memutuskan untuk menyewa perahu motor dengan harga Rp 100.000,- untuk mengelilingi danau ini.

Sebelum melanjutkan perjalanan, pak Denni membawa kami makan siang di Mentari Restaurant, sebuah restoran buffet tepat di depan tempat obyek wisata Danau Bratan. Dengan membayar Rp 60.000/pax pengunjung dapat makan sepuas hati. Setelah kenyang, kami meneruskan perjalanan kami ke tempat penginapan kami di Singaraja. Di tengah sengatnya matahari, akhirnya kami tiba.

Setelah check in, barang-barang kami dibawa dengan sebuah mobil angkutan menuju kamar kami menginap. Setelah itu kami bergegas menuju pantai. Kalau boleh jujur, kami agak sedikit kecewa melihat pantai ini. Saat itu pantai sedang surut, dan pantai tampak tak sebersih pantai Kuta. Pasirnya berwarna agak kehitaman dan banyak kerang-kerang maupun rumput laut bertaburan di tepi pantainya. Kami menyusurinya dan kemudian kembali lagi untuk berenang di kolam.

Wah..pedagang lokalpun tampak giat mendekati kami menawarkan dagangannya, termasuk pak Madi yang menawarkan perahunya untuk membawa kami melihat lumba-lumba esok pagi. Tawar menawar, akhirnya kami mendapat harga di bawah harga yang ditawarkan hotel. Sore hari kami lewatkan di kolam renang hotel. Setelah mandi, kami berjalan lumayan jauh untuk menemukan sebuah toko serba ada untuk membeli snack dan susu UHT untuk anak-anak. Setelah itu kami memesan makanan hotel, karena sepanjang jalan kami tidak temui rumah makan yang buka, padahal waktu baru menunjukkan pukul 7 malam. Namun, suasana jalan hampir sama dengan suasana jalan pukul 11 malam di Jakarta.

Hari ke - empat – 1 Agustus 2008.
Pagi-pagi sekali pukul 5.30 kami sudah bangun dan bersiap-siap untuk melihat lumba-lumba di perairan Lovina. Ternyata, bukan hanya kami, tapi kemungkinan hampir semua tamu hotel saat itu juga ramai menuju tepi pantai, mengenakan life vest dan naik ke perahu motor yang sudah disediakan kemudian siap untuk melaut. Suasana pagi itu masih gelap.Tapi tepi pantai telah ramai dipenuhi orang-orang yang juga ingin melihat lumba-lumba. Kami menanti-nanti seperti apa pemandangan lumba-lumba di pagi hari ini.

Tak lama kemudian, lumba-lumba mulai bermunculan, ada yang bergerombol, ada pula yang berpasang-pasangan. Hal yang menarik dari perjalanan melaut ini adalah hunting lumba-lumbanya ketimbang menikmati lumba-lumba yang bermunculan dan meloncat karena tidak ada seorang pun yang tahu kapan dan dimana lumba-lumba itu muncul dan meloncat. Ada banyak perahu motor yang punya tujuan yang sama, ketika ada segerombolan lumba-lumba yang muncul, maka segenap perahu motor itupun menghampiri mereka. Hal ini justru ‘mengusir’ lumba-lumba itu menjauh dari ributnya suara perahu motor. Untuk mengabadikan lumba-lumba sedang meloncatpun butuh ketrampilan khusus, buktinya, kami hanya dapat menangkap gambar lumba-lumba yang sedang menyelam daripada yang meloncat.

Mana lumba-lumbanya?
Sunrise di Pantai Lovina
Kekecewaan kami karna tidak ada lumba-lumba yang cukup ramah untuk melomcat di dekat perahu kami terobati setelah matahari terbit. Wah....indahnya....rasanya memang beda menikmati matahari terbit setiap pagi di tengah keramaian mobil-mobil menuju tempat kerja dengan menikmati matahari terbit di atas perahu di tengah laut. Saat inilah kami menyadari betapa luar biasanya ciptaan Tuhan atas semesta. Sempurna!

Sebelum kembali ke pantai, kami mampir ke taman laut, saat kami bisa menikmati beragam ikan hias dari atas perahu. Kami mengagumi warna – warna dan bentuk ikan hias yang beraneka raga itu sambil kami memberi mereka makan roti. Sekali lagi...betapa luar biasanya ciptaan Tuhan...

Sisa hari ini kami habiskan beristirahat dan rileks di kamar. Siang hari, kami mencoba naik angkutan yang ada menuju ke Barat untuk mencari makan siang, sekaligus mencari ATM dan layang-layang buat Yosua. Akhirnya kami berhenti di sebuah warung makan sederhana Ibu Dewi. Kami memesan makanan rumahan dan bakso babi...hmm yummy....sudah tiga hari ini lidah kami tidak menyentuh masakan rumahan. Teriknya matahari semakin membuat kami menikmati segelas es teh manis dan coca cola, dan kami kembali ke hotel. Anak-anak tidak menunjukkan keinginannya untuk berenang, dan jelang sore hari, saya sudah siap dengan kamera untuk menangkap momen matahari terbenam di pantai Lovina.

Sunset di Pantai Lovina


Hari ke-lima – 2 Agustus 2008
Pagi hari pukul 8 pagi, pak Ari sudah siap menjemput kami. Kali ini, terima kasih untuk Linda yang sudah membantu kami mencari traportasi pulang. Pak Ari membawa kami menyusuri pantai Lovina menuju Air Sanih. Di sini, ada sebuah tempat permandian air tawar yang letaknya tepat di bibir pantai. Daerahnya masih sepi dan pengunjungnya juga tidak banyak. Kami hanya melewati dan meneruskan perjalanan kami dengan rute jalan yang menanjak dengan pemandangan desa dan perkebunan di kiri kanannya. Kamipun tiba di Kintamani. Sungguh sepi tempat ini. Kami memutuskan tidak turun ke Danau Batur [padahal kami ingin sekali makan siang di restaurant mengapung di bawah sana], dan hanya menikmati pemandangan alam dari pagar jalan.
Setelah itu, perjalanan kami lanjutkan menuju Ubud. Rencananya kami ingin makan siang di Warung Ibu Oka. Sayang, tempatya sangat penuh, dan pilihan jatuh restauran Bumbu Bali, tepat di sebelah warung ini. Kami menyantap Tuna Sambal Matah dan Babi Kecap... Nikmat....Kemudian kami ke pasar Ubud, mencari layangan kemudian kami melanjutkan perjalanan kami menuju Pantai Sanur untuk bermain layang-layang.
Angin yang cukup besar rupanya tidak menjamin layangan Yosua naik dengan cepat. Meskipun layanangan burung ini akhirnya naik juga. Fia dan Yosua tampak menikmati waktu – waktu ini. Sore hari ini kami habiskan dengan jagung bakar dan angin yang keras menerpa wajah-wajah kami. Akhirnya kami harus meninggalkan tempat ini. Tujuan akhir, Erlangga 2. Tempat belanja swalayan dengan harga yang terjamin. Meski tidak niat beli oleh-oleh, akhirnya toh kami membeli juga. Beberapa kain taplak, sepatu Fia dan beberapa kalung dan anting. Off we go to the airport. Kami mampir di KFC untuk sekadar mengganjal perut. Sayangnya, karena alasan cuaca yang kurang baik, penerbangan ditunda. Jadilah kami menanti kurang lebih empat jam di Bandara Ngurah Rai, sebelum akhirnya take off ke Jakarta. Pihak Air Asia cukup berbaik hati dengan membelikan semua awak penumpang paket McDonald: fish burger dan segelas susu dingin.

Liburan kali ini memang agak berbeda. Banyak pengalaman baru di tiap tempat yang kami singgahi. Rasanya, yang namanya liburan tidak pernah cukup. Tapi liburan kali ini, memberi wawasan baru secara pengetahuan budaya lokal juga sisi batiniah yang turut diperkaya. Menikmati alam semakin menyadarkan kita betapa luar biasanya Sang Pencipta.