Thursday, June 3, 2010

Pembentukan ATPUSI Propinsi Kalimantan Timur: struggling demi kemajuan bangsa

Lagi..masalah perijinan

Beginilah masalah buat kami yang bekerja. Perijinan untuk pergi ke sini sana dalam rangka urusan asosiasi tidak selalu lancar. Komunikasi saat meminta perijinan saat saya pergi ke Palu, Sulawesi Tengah, yang saat itu juga menyebutkan Kalimatan Timur dan Nusa Tenggara Timur sebagai salah dua tempat yang akan saya kunjungi untuk pembentukan pengurus daerahnya, ternyata belum cukup ampuh. Rapat ’besar’ dengan para petinggi di lingkungan departemen kami pun terjadilah-lagi. Membicarakan perijinan yang katanya begitu mendadak. Membicarakan bagaimana saya sebetulnya diharapkan ada di tempat kerja dan tidak melulu keluar kantor. Diskusi tentang profesional development, komitmen kerja, ATPUSI, dan kegiatan lainnya pun bergulir dalam rapat itu.

Menurut seorang kolega, sebenarnya ini kesempatan yang baik untuk memperkenalkan apa itu ATPUSI dan apa yang sebetulnya saya kerjakan saat ini. Memang pada rapat itu, Cino dan saya diberi kesempatan banyak bercerita tentang ATPUSI dan kegiatannya. Pertanyaan-pertanyaan seputar kegiatan ini diberondong habis. Ketika saya ditanya, apa pentingnya kegiatan ini buat saya, saya jawab, saya orang Indonesia dan saya merasa harus melakukan tugas ini. Akhirnya saya diijinkan pergi.

Sore itu, 31 Mei 2010, saya langsung ke bandara Sukarno-Hatta dengan berharap akan masih ada tiket penerbangan ke Balikpapan, karena usaha saya booking tiket pada jam-jam tertentu sebelumnya terpaksa hangus karena ketidakpastian kepergian dari atasan saya. Puji Tuhan, Lion Air masih menyisakan saya tiket untuk pergi. Akhirnya, saya pun terbang ke Balikpapan, meski harus menunggu 45 menit ektra karena pesawat delay.

Tiba di Balikpapan, sekitar pukul 22.45 WITA, dan saya harus mencari taksi untuk melanjutkan perjalanan ke Samarinda. Meski dianjurkan untuk mengambil taksi dengan brand tertentu toh saya memilih taksi tanpa argo, mobil Avanza -yang katanya juga aman-. Hal ini mengingat hari sudah malam dan pilihan taksi yang disebut itu sedikit dan jadi rebutan penumpang lain.

Malam itu, saya menghabiskan waktu tiga jam melewati kegelapan malam dan menembus kegelapan hutan bukit Suharto. Tidak mau berpikir bagaimana kalau ban mobil yang saya tumpangi pecah. Baru kali ini naik taksi tiga jam dan baru kali ini naik taksi dengan membayar fee wajar Rp 250.000,-.

Seminar dan Konvensi
Meski tiba pukul 2 pagi di Samarinda, saya tetap bangun segar di pagi hari ini. Pagi itu cuaca hujan, namun tidak mengurangi semangat saya untuk mengikuti acara seminar dan konvensi ini. Mungkin karena kamar besar dengan tiga tempat tidur single di LPMP ini cuma diisi saya seorang diri, sehingga agak-agak gimanaa gitu atau karena ingin cepat-cepat menyelesaikan tugas hari ini.

Salah satu bagian dalam rangkaian pembukaan acara adalah peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Jujur saja, rapat kemarin sore sebelum saya berangkat ke bandara, tiba-tiba terputar ulang, dan tanpa terasa, rasa haru begitu menyelimuti hati saya. Beda sekali menyanyikan lagu Indonesia Raya kali ini...

Setelah pembukaan acara yang secara resmi dilakukan oleh pak Ali Shadikin, pak Wasis D Wiyogo sebagai wakil dari Tendik PMPTK mengisi acara seminar dengan sosialisasi Permendiknas no 25 tahun 2008. Ada hal menarik yang disampaikan oleh pak Wasis yaitu Borobudur ditemukan sebelum benua Amerika ditemukan. Berarti Indonesia sudah maju lebih dulu dibanding Amerika pada saat itu. Tapi kok beda kenyataannya saat ini ya? Terbalik, begitu...Hmmmm....

Akhirnya tiba pada acara konvensi. Ini artinya sesi saya dimulai, setelah makan siang.

Acara konvensi dibuka dengan sosialisasi ATPUSI kemudian penjelasan sistematika pemilihan pengurus daerah ATPUSI. Peserta dibagi dalam dua kelompok komisi yaitu Komisi A yang membicarakan sistem dan tata tertib pemilihan pengurus dan Komisi B membicarakan program kerja dan rekomendasi peserta. Ditekankan lagi bahwa tujuan acara konvensi ini adalah terbentuknya kepengurusan daerah propinsi Kalimatan Timur dan pelaksanaan pelantikannya.

Para Ketua dan Sekretaris Komisi B dan Komisi A



Pak Isnu dan Pak Sumindar, Ketua Komisi A dan Komisi B



Komisi A



Komisi B



Hal yang patut diancungi jempol dari teman-teman di Kalimantan Timur ini adalah inisiatif berkumpul untuk membahas pembentukan ATPUSI Propinsi, sebelum adanya informasi bahwa ada dana untuk penyelenggaraan kegiatan ini lewat LPMP.

Pada tanggal 12 April 2010, dengan inisiatif Drs Sumindar MSi, Kepala Bidang Pengembangan dan Pembinaan Badan Perpustakaan Propinsi Kalimantan Timur, Drs Isnu Supranto dan Jamaludin, berkumpulah duabelas tenaga perpustakaan untuk membahas acara ini.

Sayangnya, saat acara Seminar dan Pembentukan ATPUSI ini berlangsung dengan difasilitasi oleh LPMP, tidak semua rekan-rekan yang berkumpul itu diundang.

Kalimantan Timur mempunyai 3313 perpustakaan sekolah yang menyebar di empat kota yaitu Balikpapan, Samarinda, Bontang dan Tarakan serta sepuluh kabupaten. Undangan perwakilan untuk menghadiri acara ini disebar ke empat kota dan sepuluh kabupaten itu.

Akhirnya, melalui sistem pemilihan oleh tim formatur, terbentuklan kepengurusan daerah ATPUSI Propinsi Kalimatan Timur. Para peserta menyetujui untuk menambah kepengurusan dari teman-teman yang hadir di tanggal 12 April itu.

Ketua Terpilih: Pak Jamaludin



Berikut susunan kepengurusan daerah ATPUSI Propinsi Kalimantan Timur Periode 2010-2014 yang terbentuk pada tanggal 1 Juni 2010:

KETUA : Jamaludin
WAKIL : Abdul Basit, S.Pd
SEKRETARIS: Khusnul Hotimah, S.Psi
BENDAHARA: Anida
Komisi Organisasi:
1. Andi Erviana
2. Hj Fitriana
Komisi Pengembangan Profesi:
1. Erna Rosida
2. Muh Sufran
Komisi Usaha dan Dana:
1. M. Riyad
2. MI Prapto Salam
Komisi Hubungan dan Kerjasama:
1. Yuliana, S.Th
2. Yusuf Pateung, AMD

Pembacaan Janji Pengurus



Penandatangan Berita Acara



Penandatangan Berkas Pelantikan



Foto bersama



Waktunya menikmati kuliner
Acara selesai pada sore hari, dan berterima kasih kepada Bpk Sumindar, pak Isnu dan pak Jamal untuk kesediaannya menemani saya menikmati seafood di salah satu rumah makan di Samarinda, sebelum saya kembali ke Balikpapan malam itu untuk mengejar pesawat pagi harinya.

Oya, saya sempat mengunjungi perpustakaan Propinsi Kalimantan Timur dan takjub dengan gedung tiga lantai ini yang masih ramai oleh pengunjung di sore malam hari itu.





Saya sempat mengunjungi ruang anak – anaknya, dan secara cepat melihat layanan di lantai dua dan tiga. Kesan saya: perpustakaan modern dengan layanan prima. Two thumbs up [Ini bukan karena saya ditraktir seafood pak Sumindar loh] Serius, perpustakaan umum ini keren habis

Nah, saya tidak bercerita banyak tentang menu seafood yang saya nikmati malam ini. Silakan nikmati foto-fotonya ya.

Udang asam manis: asam dan manisnya..menyegarkan..slurrppp



Kepiting soka, kepiting kulit lunak: baru kali ini bisa makan cangkang kepiting..kriuk kriukk..



Sayur asem: kelihatannya seperti sayur lodeh, warnanya juga, tapi tidak kental. Asemnya, asammm...yummyy..



Roti pisang: penganan khas Samarinda: mirip kue lumpur



Ikan Terkulu Asam Manis: Ini menu makan siang. Jujur saja, saya makan empat piring dengan lauk ikan ini. Daging ikannya mirip ikan kakap. Dengan olahan khas, ikan segar ini nikmat disantap dengan sambal khas yang tersedia. Mantap.



Pulang yuuukkk
Setelah kenyang makan malam, supir taksi kenalan pak Sumindar datang menjemput saya. Saya siap meluncur kembali ke Balikpapan untuk penerbangan pagi pukul 7 keesokan harinya.

Saya diantar ke hotel tempat saya bermalam yang juga sudah dipesan dari Samarinda. Kamar saya sederhana, dengan furniture berwarna hitam. Saat saya bersiap hendak istirahat, terdengar iklan acara, Dunia Lain di TransTv (atau Trans7? saya lupa). Saya merinding. Saya berdoa.

Suasana di kamar itu membuat saya tidur menghadap ke arah dinding sebelah kiri tempat tidur, bukan ke gordyn, di sebelah kanannya yang terlihat agak gelap. Program televisi saya ganti dengan program sepak bola, dan saya putar keras-keras lagu-lagu yang ada di handphone saya.

Saya melewati malam itu dengan dag dig dig dan rasa takut. Ini tidak biasa. Tiba-tiba di kepala saya muncul bayangan-bayangan aneh. Please go away bayangan aneh. Ini perasaan saya saja, batin saya dalam hati. Untuk memastikan saya bangun pagi, saya pasang alarm di handphone saya.

Seingat saya, saya tidak mengubah jam yang ada di handphone saya dengan waktu lokal. Saya biarkan dengan waktu Jakarta. Saya pasang alarm agar saya bangun pukul 4 WIB, artinya pukul 5 WITA. Saya terbangun oleh bunyi alarm handphone saya, ternyata baru pukul 3 WIB. Artinya pukul 4 WITA dan itu berarti satu jam lebih awal dari setting-an yang saya buat. Saya membatin, mungkin saya salah setting tadi. Hiiii....saya mau pulangggg!

Tuesday, May 4, 2010

Pembentukan ATPUSI Propinsi Sulawesi Tengah

menuntaskan tugas negara dan wisata kuliner





Persiapan



Setelah Pak Ihsan menugaskan saya untuk meggantikan pak Eko, maka segala persiapan keberangkatan untuk pembentukan Pengurus Daerah di Propinsi Sulawesi Tengah pun dilakukan. Syukurlah email pak Ihsan kepada para petinggi The British International School untuk mengijinkan saya melakukan tugas panggilan negara ini, membuat perijinan saya untuk cuti menjadi lebih mudah.



Hari Kamis dan Jumat tanggal 29 dan 30 April benar-benar hari sibuk mengurus ini itu. Mulai dari pekerjaan kantor, perijinan, konfirmasi tiket, persiapan anak-anak untuk ditinggal selama dua hari dan lainnya yang tidak dapat saya sebut satu per satu di sini.



Untunglah komunikasi dengan pihak LPMP Palu dapat dilakukan lewat email dan telfon. Sesi untuk saya selaku wakil dari Pengurus Pusat ATPUSI tidak perlu diubah karena akhirnya saya mendapat tiket untuk penerbangan pagi hari, dan perkiraan untuk tiba tepat waktu sebelum sesi saya di sore hari.



Ketibaan

Setelah transit di Surabaya dan delay karena hujan dan angin, pesawatpun diberangkatkan ke kota Palu. Menjelang ketibaan saya melihat hamparan laut biru tua yang luas, lembah dan gunung berbukit yang hijau di sekitar teluk Palu.



Ada cerita lucu saat tiba hari Senin siang di Palu. Saat rekan dari LPMP menjemput saya, mereka sebenarnya berharap menjemput dua orang. Tapi karena saya juga tidak berkomunikasi lagi dengan wakil dari Tendik PMPTK, maka saya bilang saya sendiri.



Setiba di kantor LPMP, pihak kantor LPMP menerima telfon kalau Ibu dari Tendik PMPTK Jakarta sudah menunggu dan tidak ada yang menjemput. Sementara saya dan penjemput saya sudah tiba di depan matanya. Bingunglah si Ibu ini. Ternyata, kesalahan komunikasi ini mengakibatkan tertinggalnya seorang tamu tadi di bandara Mutiara. Keberuntungan di pihak saya. Kalau bukan saya yang ditelfon pertama, pasti saya yang akan menunggu saat itu…



Sore itu, saya siap-siap untuk melakukan tugas saya untuk memfasilitasi pembentukan Pengurus Daerah ATPUSI Sulawesi Tengah.







Proses Pembentukan

Peserta yang hadir sebanyak 16 dari 22 orang yang diundang. Kota Palu memiliki 11 kabupaten yang berpencar. Acara dibuka dengan pengenalan ATPUSI, kemudian dilanjutkan ke Konvensi dan Pemilihan Pengurus Daerah Propinsi Sulawesi Tengah.



Komisi A





Komisi B





Penghitungan suara



Pengurus



Janji Pengurus





Peserta nampak antusias, rileks tapi serius dalam mengikuti proses acara konvensi ini. Semangatnya nampak jelas saat mereka bersedia jeda untuk shalat Maghrib kemudian kembali lagi untuk melanjutkan persidangan. Di luar dugaan estimasi waktu, ternyata acara selesai pukul 8 malam. Panitia dan peserta puas dengan pencapaian sore hingga malam ini.







Saatnya jalan-jalan

Tugas selesai sudah. Beruntung ada staf LPMP yang bersedia mengajak saya jalan-jalan melihat kota Palu di malam hari. Nuning dan Wiwik, membawa saya naik motor ke Taman Ria. Tempat nongkrongnya anak-anak muda Palu sambil menikmati pantai. Kami memesan makanan dan minuman khas Palu. Setelah itu, kami beranjak lagi menuju dataran tinggi di daerah kabupaten Donggala untuk melihat pemandangan Palu di malam hari. Indahnya....



Minuman hangat, Saraba





Pisang Gepe





Stik Kentang





Kentang Pedas





Keesokan harinya, Nuning dan Wiwik serta seorang rekan yang bersedia menyupiri mobil –mohon maaf, saya tidak dikenalkan namanya- membawa saya melihat kerajinan tenun kain Donggala. Kami melihat dari dekat proses pembuatan kain ini dari dekat.



Proses cetak kain





Setelah itu kami menuju sebuah toko souvenir kecil yang menjual kerajinan dari kayu hitam. Untuk makan siang, kami menuju Layana, Palu Utara demi mengejar kaledo enak yang ada disana. Terbukti, maknyussss...



Kaledo yang enak itu..





Ini menu kaledo saya, ditambah singkong rebus (mereka menyebutnya ubi) dan es jeruk





Cara Nuning makan kaledo





Kenyannnggg....





Sayangnya, Nuning ketibanan musibah kehilangan handphone. Waduhh..saya kebagian tidak enaknya kalau begini...



Kepulangan

Akhirnya, om Olo, mengetuk pintu kamar saya dan membawa berkas-berkas yang saya perlukan dan mengatakan siap mengantar saya ke bandara. Bawang goreng yang merupakan oleh-oleh khas kota Palu, beberapa tempat lilin dan kain Donggala, sudah saya atur rapi dalam tas saya. Siap kembali ke Jakarta.



Terima kasih buat segala layanan yang saya terima selama saya berada di Palu, teman-teman LPMP Palu! Mohon maaf ya kalau saya sudah merepotkan. Kunjungan pertama ke Palu punya kesan tersendiri buat saya.

Thursday, March 11, 2010

Banda Aceh - Bireuen: antara teroris, kolaborasi dan wisata kuliner

Dalam rangka peringatan Hari Buku 2010, Perpustakaan Sekolah Sukma Bangsa, Bireuen mengadakan rangkaian kegiatan dan lomba yang diakhiri dengan Workshop yang bertema Kolaborasi Pustakawan dan Guru Dalam Implementasi Literasi Informasi (Information Literacy).



Undangan dan Perjalanan

Panitia telah mengundang Dosen IAIN Ar-Raniry NAD, Bapak Saefuddin Ar-Rasyid, M.Sc; Syarizal (Medan International School) dan Hanna Latuputty-George, SS (Ketua APISI)



Hari Jumat malam, kami,saya dan ibu Eko, mendarat di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda setelah menempuh penerbangan di tengah cuaca hujan dari Medan. Bersama Alpi dari Sekolah Sukma Bangsa, Pak Saef, Eko dan saya menikmati santap malam di Lambaro. Setelah menyantap hidangan nasi goreng dengan udang dan cumi yang lezat, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Bireuen.



Jujur saja, kesibukan pekerjaan dan persiapan acara ini mengalihkan perhatian saya bahwa telah terjadi penangkapan empat tersangka teroris lewat penyergapan ke kamp latihan di kawasan pegunungan Jalin, Kecamatan Jantho, Kabupaten Aceh besar, Senin (22/2) malam oleh Tim Polda Aceh.* Luput juga dari perhatian saya bahwa polisi berkeyakinan kawanan bersenjata ini melarikan diri ke Kemukiman Lamkabeu di Kaki Gunung Seulawah -sebagian kecil diperkirakan melarikan diri ke pedalaman Jalin, juga ke Bireuen!** Hal yang pasti, jalur darat yang kami lewati malam itu adalah Banda Aceh - Jantho - Sigli - Pidie dan Bireun. Jalanan yang gelap tanpa lampu jalan dan dua kali sweeping mewarnai perjalanan kami hingga ke Bireuen.



Kolaborasi itu penting

Cuaca tampak cerah saat acara yang diadakan tanggal 6 Maret 2010 ini dimulai. Kecerahan pagi ini serasa menyapu bersih keletihan perjalanan kami semalam dari Banda Aceh. Acara ini dihadiri sekitar hampir tujuh puluh peserta yang kebanyakan dari mereka adalah pustakawan sekolah dan ada juga beberapa kepala sekolah. Tampak terparkir si depan ruang acara, sebuah Mobil Pintar dan Motor Pintar yang berisi buku-buku baru yang masih bagus-bagus.



Para peserta tampak antusias menanggapi presentasi kami, dan mereka tampak sekali bersemangat untuk mencari tahu trik-trik pengembangan perpustakaan sekolah mereka yang mereka anggap masih apa adanya.



Ada salah satu kepala sekolah yang berkomentar bahwa kurang tepat sekiranya pustakawan dan guru kelas berkolaborasi, sarannya, pustakawan menyediakan bahan saja untuk guru. Baginya, guru pustakawan lah yang klop untuk memberi pengajaran literasi informasi ini.



Peserta Workshop



Pertanyaan yang menarik dari seorang kepala sekolah. Dalam hal ini saya tekankan bahwa implementasi guru pustakawan belum memiliki aturan tata laksana yang jelas di Indonesia. Istilah ini sangat popular di dunia kepustakawan sekolah di Australia. Istilah ini muncul setelah di lapangan timbul suatu kebutuhan bahwa pustakawan perlu memberi pelajaran tambahan bagi murid-murid tentang keterampilan literasi informasi.



Kebanyakan sekolah-sekolah mempekerjakan guru untuk mengolah perpustakaanya, dan jarang dari antara mereka yang memiliki latar belakang ilmu perpustakaan. Seballiknya tidak banyak sekolah-sekolah yang mempekerjakan seorang pustakawan profesional untuk mengelola perpustakaannya. Sementara itu, sebuah posisi GURU PUSTAKAWAN sebetulnya diberikan kepada mereka yang memang memiliki kualifikasi sebagai guru DAN pustakawan. Ini situasi ideal. Pada pelaksanaannya, ada guru yang berperan menjadi pustakawan guru dan ada pustakawan yang berperan sebagai pustakawan guru. Sementara Permendiknas nomor 25 tahun 2008, tentang Sertifikasi dan Kualifikasi Kepala Perpustakaan dan Tenaga Perpustakaan sama sekali tidak menyinggung peran guru pustakawan ini.



Peran perpustakaan sekolah dan pengelolanya memang telah bergeser sangat significant akhir-akhir ini. Perkembangan teknologi dan kebutuhan pengajaran literasi informasi telah menggeser peran pustakawan sekolah untuk lebih pro active dalam melayani kebutuhan informasi pemakainya melalui tehnologi informasi dan komunikasi yang begitu cepat dan pesat perkembangannya. Di sisi lain, kebutuhan untuk membekali peserta didik dengan keterampilan informasi juga semakin diperlukan. Itulah sebabnya seorang pustakawan kini di'tuntut' untuk berperasn ganda, tidak saja sebagai tenaga pengelola perpustakaan melainkan juga sebagai pengajar untuk keterampilan literasi informasi.



Jadi, kolaborasi pemangku jabatan, kepala sekolah, guru dan pustakawan sekolahnya sangat penting dalam menentukan kebijakan lokal apa yang patut dibuat untuk menunjang hal-hal apa yang dianggap penting dan menjadi prioritas dalam sebuah sekolah yang berpengaruh terhadap rencana kerja mereka masing-masing. Tentu saja ini akan berdampak langsung terhadap perkembangan perpustakaan sekolahnya serta layanan yang diberikan. Siapkah kita?

* http://www.serambinews.com/news/view/24954/empat-tersangka-teroris-dibekuk (diakses 12 Naret 2010)

** Gatra No 18 Tahun XVI - 11 - 17 Maret 2010.



Wisata Kuliner



Lambaro. Makan malam. Ini pilihan saya...







Kuliner di Alun-alun, Sigli



Mie Aceh Kepiting: hmmm....mantabb





Sate Matang: daging sapi dengan saus yang unik





Martabak Duren: hidangan penutup





Banda Aceh. Sarapan pagi



Berempat di kawasa Rex, nama tempat kedai-kedai makan di Banda Aceh







'Nasi Uduk dengan telur atau dendeng, Es Jeruk, Teh Hangat, atau air putih...'





Cemilan teman makan pagi





Kunjungan ke beberapa tempat di Banda Aceh



Pelabuhan Feri Ulee Lheue



















Kapal PLTD Apung







Kapal ini benar-benar berada di tengah pemukiman penduduk. Untuk mencapainya, kami melewati gang gang kecil. Kapal ini terkapar kira-kira 4 km dari tepi laut.



Masjid Raya Baiturrahman





Monday, February 8, 2010

Seafood dan Suki di BSD

SEAFOOD
Ah...lidah saya sudah lama merindukan taste makanan laut. Kebetulan, rapat APISI yang hanya bisa dihadiri oleh penduduk Serpong, diputuskan untuk diadakan di daerah Mal BSD. Di sini ada sebuah rumah makan yang terletak di pojok gedung tempat rentetan gerobak makanan dan pondok makan berada. Namanya Jamal Portal. Tempatnya tidak terlalu besar, dan pelanngan yang menikmati santapan di sini akan menikmati semilir angin di ruangan terbuka.

Setibanya di sana, pembeli dapat memilih jenis hewan laut apa yang hendak di santap. Inilah pesanan kami....yummmmmyyyyy:












SUKI
Ada suki enak di Teraskota, BSD. Letaknya di lantai satu, persis di sebelah kanan pintu masuk utama. Namanya, U-Suka Suki. Dimsum dan Suki Restoran. Rasanya enak, karena untuk sajiannya, mereka memberi dua pilihan rasa untuk kuahnya, rasa ayam dan tom yam. Kami memesan baso salmon, lumpia ikan, tahu jepang udang, serta sayuran baby pakchoy. Dengan dua mangkok nasi putih dan semangkuk sup jagung kepiting serta jus alpukat dan fresh orange, total pesanan kami bertiga adalah seratus enam puluh satu ribu rupiah saja. Kami kenyang, puas dan lidah kami termanjakan dengan rasa suki yang cukup beragam ini.