Saturday, November 5, 2011

Jatiluwih: Menikmati Keindahan Pemandangan Alam Bali yang Berbeda

Kunjungan ke Bali kali ini membawa sebuah pengalaman yang berbeda dari kunjungan saya sebelumnya. Biasanya saya hanya ke pantai, baik itu Kuta maupun Lovina. Kali ini, saya beruntung karena Pak Putu membawa saya pada sebuah keindahan alam selain pantai di Jatiluwih. Sebetulnya ada teman-teman APISI lain yang rencananya akan ikut tur kecil ini, namun karena jarak yang ditempuh lumayan jauh sementara ada tugas persiapan Seminar APISI keesokan harinya yang harus dilakukan, jadilah hanya saya yang menjadi satu-satunya peserta yang diguide oleh Pak Putu. Terima kasih ya pak, sudah mau menjemput saya di terminal Ubung dan berlelah menjadi private guide saya:)

Pemandangan alam hijau yang membentang seluas mata memandang dan hanya pegunungan dan cakrawala langit yang membatasinya. Sawah, aliran subak, sapi, hutan dan pepohonan menyertai perjalanan saya saat saya memasuki wilayah ini. Saya beruntung bisa menikmati alam ini dan menyaksikan 3300 ha luas tanah yang akan dibangun menjadi sebuah learning center yang saat ini sedang mulai di garap oleh Pak Putu.

Saya tidak akan berkata-kata banyak, foto-foto di bawah ini akan menunjukkan keindahan alamnya. Oia, tidak banyak tempat penginapan di daerah ini meskipun, wisata yang ditawarkan sangan menarik. Wisata alam seperti paddy field, forest tracking, dan sepedaan menjadi pilihan turis ketika mengunjungi saserah wisata ini. Pak Putu menunjukkan sebuah restauran yang berada di dataran yang tinggi perbukitan, yang dicapai dengan hiking. Namun para wisatawan tidak keberatan untuk merogoh koceknya sekitar sejutaan untuk makan siang di rumah makan itu, karena pemandangan yang ditawarkan konon luar biasa. Ingin juga kapan-kapan mencoba restauran itu, meski dari sekarang saya harus menabung hanya untuk makan di restauran itu sesaja.

Foto-foto dibawah ini diambil oleh saya, fotografer amatir dengan kamera poketnya :D.











Learning center -going-to-be
Pak Putu bercerita tentang usaha dan cita-citanya membangun sebuah learning center di daerah ini. Tanah yang berundak-undak ini akan dibangun dengan mempetahankan kontur tanah yang ada dan bangunan yang tetap mempertahankan ciri khas bangunan arsitektur Bali. "Diharapkan nantinya anak-anak bule yangdatang ke sini untuk wisata, mau mampir dan berdialog dengan sekitar 30 anak-anak SD yang sekolahnya tidak jauh dari lokasi ini", demikian penjelasan Pak Putu tentang program learning center ini. Hal yang menjadi nilai tambah dan keunikan learning center ini dibandingkan dengan komunitas belajar yang sudah ada adalah bahwa literasi dibangun dari tradisi oral setempat. Bukan dengan meniadakan budaya oral yang sudah ada, melainkan berangkat dari apa yang mereka sudah miliki selama ini.

Learning center ini nantinya bukan saja tempat anak-anak berkumpul untuk membaca dan belajar, melainkan juga mengembangkan nilai-nilai budaya oral yang sudah ada sebelumnya, seperti musik dan tari-tarian khas Bali. Sebuah perkumpulan kesenian setempat hanya digeluti oleh para tetua setempat, dan kurang sekali diminati oleh anak-anak muda-nya, tambah pak Putu. Teknologi mulai merambah memasuki daerah ini seperti warung internet dan permainan biliard. Semoga ini bisa membangun komunitas masyarakat yang ada, bukan melenyapkan yang sudah ada ya.

Menurut saya, justru budaya yang sudah mereka miliki ini selayaknya menjadi added value sebagai landasan pengembangan rasa percaya diri masyarakat setempat, baik itu anak-anak maupun orang dewasa. Ketika mereka berinteraksi dengan bangsa asing yang datang untuk menikmati pemandangan alam tempat tinggal mereka, mereka akan dengan bangga mennjadi bagian yang tak terpisah dari kesenian budaya yang ada, dan lebih lagi, mereka menjadi tuan rumah di tanah mereka sendiri. Mereka perlu menyadari akan kekayaan budaya mereka yang tidak dimiliki oleh pendatang asing, dan dari situlah mereka membuka wawasan global mereka dengan interaksi dan dialog untuk membuka celah mereka menjadi tuan di negeri sendiri.

Saya berharap, apa yang sedang dirintis Pak Putu ini menjadi sebuah model untuk pengembang learning center di berbagai pelosok tanah air. Mari kita dukung gerakan ini.... Saya berharap saya akan kembali suatu hari nanti untuk mengikuti kegiatan program yang diselenggarakan di learning center ini. watch this space yaa :D



Coklat
Saya penggemar coklat kelas berat. Namun, baru kali ini saya dapat merasakan bagaimana rasanya buah coklat itu. Pak Ketut,- kenalan pak Putu yang rumahnya menjadi persinggahannya- baru saja mendapat hibah tanaman coklat untuk perkebunannya. Kebetulan, di dekat rumahnya ada pohon coklat yang sudah berbuah, dan beliau menawarkan saya untuk mencicipinya. Ternyata, jauh dari gambaran saya sebelumnya. Isi buah ini seperti manggis dengan rasa yang agak asam. Isi buah ini nantinya dijemur baru kemudian diolah menjadi coklat yang biasa kita beli jadi di toko-toko dan supermarket.



Bangunan gereja unik
Perjalanan pulang, kami mampir sebentar ke sebuah bangunan gereja yang berciri unik arsitektur Bali. Saat bercerita dengan pak Ketut dan teman SMA pak Putu-yang saya lupa namanya- mereka mengatakan bawah jemaat gereja ini saat ini semakin berkurang. Banyak dari mereka yang kembali memeluk agama mereka mula-mula, yaitu agama Hindu. Kualat, kata pak Ketut. Pengalaman mereka saat pindah agama ternyata membawa pengalaman kurang mengenakkan dan mereka merasa 'bersalah' telah murtad, dan akhirnya kembali memeluk agama mereka semula. Pak Ketut menekankan bahwa sebetulnya semua agama itu baik, dan ketika orang sakit, tidak mesti apakah itu terjadi saat mereka baru pindah agama atau dalam kegiatan keseharian mereka. Sakit mah sakit aja, begitu kira-kira. Pemikiran yang moderat, pikir saya, atau supaya saya tidak tersinggung mungkin :)



Namun, patut diakui bahwa tolerasi beragama masyarakat di sini sangat besar. Sebuah masjid yang kami lewati, dibangun bersama oleh masyarakat Hindu yang merasa miris melihat kaum muslim bersembahyang di tempat yang menurut mereka kurang layak. Anggapan mereka adalah kalau tempat ibadah kami adalah tempat yang kami rawat dan kami sanjung keberadaannya, maka patutlah pulan sebuah masjid dibangun bagi umat muslim. Mereka harus mempunyai tempat ibadah yang layak sebagaimana rumah ibadah kami. Demikian anggapan masyarakat itu. Maka dibangunlah sebuah masjid dengan semangat gotong royong, tolerasi dan kebersamaan. Sungguh sesuatu yang patut dicontoh dan dimiliki oleh tiap orang Indonesia dalam mempertahankan keselarasan dalam keragaman agama dan budaya.

Nasi campur
Belum klop rasanya kalau kunjungan ke Bali tidak mencicipi nasi campurnya. Di salah satu kedai perjalanan kami menuju Kuta, kami mampir untuk menikmati nasi campur ini.



Akhirnya, perjalanan setengah harian menikmati alam indah pegunungan dan sawah ini usai. Terima kasih banyak Pak Putu, berharap saya akan kembali untuk mengunjungi learning center ini.


Pak Putu dan saya usai sesi yang dibawakan Pak Putu di Seminar Perpustakaan Sekolah APISI di Rumah Khalwat Tegal Jaya, Dalung, Kuta Utara.

Jelajah Kopi Blue Mountain, St Andrew, Jamaica

Blue Mountain Tour merupakan salah satu pilihan jalan-jalan kami di Jamaica. Tour ini mengajak para peserta mengunjungi Craighton Great House, sebuah rumah yang dibangun oleh seorang Jepang yang mengembangkan perkebunan kopi sekitar tahun 1700-an. Rumah bergaya Georgian ini terletak di puncak Blue Mountain yang saat ini masih dikunjungi oleh para pejabat tinggi pemerintahan Jamaica di musim panas untuk mencari suasana sejuk pegunungan.

Pemandangan menuju Craighton Great House











Jalan menanjak masih harus kami lewati untuk mencapai rumah ini. Seketika saya merasa ada di Puncak setelah tiba di area perumahan ini. Ada rumah dan kolam renang. Bahkan tanaman yang tumbuh juga tak jauh beda dengan yang biasa ditemukan di daerah pegunungan. Berasa ada di Cisarua, Puncak, ini mah :)








Setelah melihat-lihat rumah antik ini, kami dipersilakan duduk dan mendengar penjelasan dari salah satu petugas di sana tentang produk kopi di Blue Mountain. Setelah kami menikmati kopi yang disuguhi dan mencicipi biji kopi yang tidak terasa pahit ini kami berjalan ke samping rumah mengarah ke perkebunan kopinya. Jujur saja, di benak saya sudah tergambar hamparan luar pohon - pohon kopi. Tapi, ternyata kok hanya segini saja ya? Kemana pohon-pohon yang lain? Apa ini hanya tanaman percontohan untuk dipertontonkan bagi pengunjung? Sayang tidak ada mas-mas yang menjelaskan saat itu.

Ini dia kebun kopinya





Menurut mas-mas yang memberi penjelasan tadi, kopi Blue Mountain ini adalah yang terenak di dunia. Konon, jenis kopi ini yang paling mahal dan paling dicari-cari orang. Sebesar 80% hasil kopi ini diekspor ke Jepang. Biji kopi ini juga yang dibuat untuk liqueur kopi Tia Maria, yaitu liqueur kopi yang berasal dari Jamaica yang mengandung biji kopi, cane spirit, vanila dan gula plus 31,5 % alkohol. Saya sempat membawa liqueur kopi merek Baronhall Estate yang kandungan alkoholnya 25%. Biasa saja. Bicara kopi paling enak, buat saya masih enak Luwak Java Arabica Coffee "Andungsari". Serius.

Thursday, September 1, 2011

Makan makanan Indonesia: yeeaaayyy!

Saatnya balas dendam untuk MAKAN MAKANAN INDONESIA! Setelah hampir 10 hari makan makanan non Indonesia di pesawat dan Jamaica, rasa kangen makan makanan kita benar-benar tak tertahankan. Kami mencari tempat makan yang tidak jauh dari tempat kami, letaknya persis di sebelah kanan pintuk keluar tol Pondok Aren dari arah Jakarta. Lunch hari itu benar-benar menebus rasa makanan Indonesia yang saya rindukan.

Hidangan Pembuka
Pertama, kami memesan minuman yang beragam, untuk kemudian saling dicicipi :D

Dari kiri ke kanan: Jus sirsak, es kopyor, es lemon tea dan es soda teh strawberry



Es soda teh strawberry yang saya minum, sangat menyegarkan. Perpaduan soda dan teh menghilangkan rasa asam straberrynya. Rasa campur-campur yang menyegarkan :)

Sambil menunggu makanan utamanya keluar, kami memesan kue jaman saya kecil. Jajanan kampung, kue ragi sagu betawi:



Hmm...rasanya sudah jadi modern, kurang kampung dan 'jorok' seperti saya masih kecil dulu. Maklumlah, dulu kan belinya ke abang-abang panggul yang lewat depan rumah. Rasa abu bakar dan abu jalannya justru penambah nikmatnya. Tapi lumayanlah, pelipur kerinduan masa kecil. Ciieee..

Hidangan utama
Nah, ini dia makanannya. Mereka juga menyediakan nasi merah selain nasi putih. Sehat bukan.

Ini jagoan saya, Kepiting Saus Pedas.

Kalau sudah makan kepiting model ini, nasinya sedikiitt saja. Jadi, daging kepiting dan saosnya, menyatu padu penuh dilidah. Pedas dan nikmat.

Udang Windu Goreng Mentega

Udangnya enak dimakan sambil dicocol kuahnya.

Udang Windu Bakar Madu

Tak dinyana, rasanya pedas. Jadi terasa deh perpaduan madu yang pedas.

Cumi Bakar Kecap

Sebetulnya cumi ini akan terasa lebih enak, kalau rasa bakarnya tidak terlalu tajam tertempel di cuminya.

Karedok

Nah ini pilihan sayurnya, buat yang ingin menjaga diet seimbang :) Oia, sebetulnya kami juga memesan kangkung cah polos, pasangan yang pas untuk seafood di atas.

Hidangan Penutup
Selesai makan utama di atas, Fia memilih Crepes Pisang Keju untuk hidangan penutup.


Saya memilih Iced Caramel Machiato untuk minuman penutup. Mantap.


Selain itu kami juga memesan buah segar, yang disajikan dalam bentuk potongan dan ditata diatas serutan es batu: semangka, nanas dan melon. Segarrr

Tempat Makannya


Roman-roman muka kenyang:D




Nikmatku pada makananmu, Indonesia, sedalam cintaku padamu, Negeriku ... [hallahhh]
Terbalas sudah dendamku pada makanan Indonesia yang kucinta..., untuk saat ini. Saya akan kembali dengan makanan lainnya, di Indonesia tercinta.

[heraann, kenapa tiba-tiba gue jadi patriotik gini yak? Mosok minum Iced Machiato Caramel aja mabok sih hehehehe]

Tuesday, August 30, 2011

Breakfast @ Mona Visitor's Lodge, UWI, Kingston, Jamaica

Acara makan pagi ini berkaitan dengan salah satu program konferensi IASL, Kingston, Jamaica yaitu Author Breakfast. Liputan acara ini bisa dibaca di sini.

Sekarang kita lihat makanannya. Untuk sajian pembuka, mereka menyajikan Fruit Salad dan Yogurt topping. Potongan buahnya adalah semangka, nanas dan mangga.



Makanan pembuka yang menyegarkan dengan campuran buah-buahan dengan rasa asam dari yoghurt plus satu muffin sebagai pelengkap. Minum yang disajikan adalah jus jeruk.

Acara terus berlangsung sementara mbak-mbak dan mas-mas penyaji dengan sigap mengangkat piring kotor dan menggantinya dengan menu selanjutnya.

Tibalah pada menu utama:


Menu utama yang tersaji pada gambar di atas adalah:
- Escovetched fish pieces :potongan ikan kecil yang digoreng dengan potongan wortel sebagai pelengkap
- Steamed callalo dan saltfish:tumis daun callalo yang dicampur dengan potongan kecil-kecil ikan asin. Tapi dari penampilan dan rasanya, mereka lupa menyertakan ikan asin-nya saat memasak, saya rasa. Rasanya blast sayuran thok.
- Smoked marlin platters with capers: ikan marlin asap yang rasanya asin sekali

Ada satu makanan yang dipiring tapi tidak disebutkan dalam daftar menu yang direncanakan yaitu banana fritters alias pisang goreng. Lumayan, sebagai pilihan penyeimbang yang kompak dengan lidah saya.

Satu jenis lagi yang berbentuk segitiga putih itu seharusnya tersaji sebagai makanan pendamping, namanya steamed bammy alias singkong kukus. Bammy hampir selalu ada dalam setiap sajian, mirip nasi buat kita di Jakarta. Terbuat dari singkong yang digarami. Kadang tersaji sebagai hidangan yang dikukus atau dibakar.

Sayuran hijau yanag tampak seperti irisan daun singkong kukus itu adalah daun callalo. Ini dia bentuk aslinya:


[sumber:http://www.jamaicamix.com/Food/CallalooPicGallery.html. Diakses 30 Agustus 2011]

Dari rasanya, saya menduga kalau cara masaknya ditumis biasa, dan rasa daunnya seperti daun singkong.

Saya melirik piring para peserta yang hadir di acara ini. Mereka yang adalah peserta lokal, piringnya hampir bersih. Tapi salah satu peserta disamping saya [belakangan saya tahu ia berasal dari Inggris], tidak menyentuh makanan utamanya.

Saturday, August 20, 2011

Brisbane - Edmonstone Hotel


Sedikit gambaran tentang tempat kami bermalam selama konferensi berlangsung. Tempat ini berada di 24 Edmonstone Street, South Brisbane QLD 4102. Shyh Mee Tan telah lebih dulu booking tempat ini jauh-jauh hari sebelum waktu konferensi. Kemudian kami sepakat untuk bergabung. Lumayan, biaya akomodasi jadi lebih murah dan lebih ramai pastinya.

Perempatan jalan yang biasa kami lewati dari Brisbane Convention Hall, tempat berlangsungnya konferensi.


Tampak depan hotelnya


Suasana malam hari


Lorong menuju kamar kami di lantai dua, paling ujung


Meja kecil tempat kami bincang-bincang, di samping dapur


Biasanya kami sarapan di teras belakang ini


Kamarnya bersih, ada hair dryer [Rachma, Shymee, don't laugh ;)], ada meja setrika lengkap, dapur dengan microwave dan peralatan dapur dan makannya. Kami belanja mi instan, jus, susu, roti, mentega dan selai kacang untuk makan pagi kami. Nah ini pose sebelum pulang. Jadi kelihatan lebih rapi, dah kelar pack-up soalnya :)

Brisbane-Goald Coast-Brisbane - Last day

2 Oktober 2010

Hari ini Rachma dan saya akan menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan dengan tujuan utama Goald Coast,Kuta-nya Bali lah kira-kira. Goald Coast merupakan salah satu tujuan wisata yang terkenal di Queensland terutama bagi mereka pecinta pantai. Dari Brisbane, kami ke stasiun kereta untuk naik City Train menuju Nerang kemudian dilanjutkan dengan bis menuju Surfer's Paradise.





Perjalanan kira-kira ditempuh selama satu jam. Sayangnya, saat kami tiba di Surfer's Paradise, hujan mulai turun. Tambahan lagi, terlihat adanya perbaikan konstruksi di sekitar akses masuk ke pantai. Kami berteduh dulu di mal terdekat sambil makan siang kebab.

Berpose di akses masuk pantai Surfer's Paradise




Melihat cuaca yang menunjukkan hujan dan mendung sepanjang hari, kami memutuskan untuk kembali ke Brisbane. Rencana mengunjungi tempat-tempat lain di Brisbane dalam waktu sehari tidak memungkinkan kami berlama-lama di Surfer's Paradise juga.

Dari Nerang, kami naik kereta lagi menuju Fortitude Valey untuk melihat Chinatown.


Saat itu kami melihat keramaian para penjaja dagangan merapikan dagangannya di tepian jalan sekitar Chinatown ini. Rupanya kami tiba bertepatan dengan usainya 'pasar jongkok' di daerah ini. Mungkin karena guyuran hujan juga. Barang-barang yang dijajakan disini yang sempat terlihat mirip dengan dagangan di pasar kaget BTC, Bintaro, seperti baju-baju anak dan dewasa, sepatu, kacamata, tas dan dompet. Standard ya?

Selanjutnya kami menunggu bis menuju Teneriffe, stasiun penghubung untuk naik ferry.


Kapal ferry yang kami tumpangi hanya membutuhkan waktu perjalan sekitar 10 menit untuk tiba di Bulima ferry, 'halte' tempat kami menunggu City Cat yang akan membawa kami pada pengalaman naik ferry di siang hari.



Ternyata cukup lama menunggu City Cat yang mengantar kami ke tujuan kami selanjutnya, Queensland University of Technology (QUT). Sambil menunggu, saya melihat peta perjalanan lewat air ini. Tidak perlu merasa takut kalau tiba-tiba kita merasa nyasar. Informasi yang disajikan sangat rinci di sini.



Sambil menunggu, saya mengambil beberapa pemandangan di sekitar Bulima ferry ini.


Cuaca mendung di sekitar Bulima ferry




Ini dia City Cat yang akan mengangkut kami ke perjalanan selanjutnya.


Dari Bulimba Ferry, City Cat melewati Hawthorne, New Farm Park, Mowbray Park, Sydney street, Riverside dan QUT Gardens Point, tempat kami turun. Waktu yang kami tempuh sekitar 15 menit melewati 'halte-halte' tadi. Hari sudah mulai gelap saat kami tiba di kampus QUT. Suasana kampus juga tampak sepi. Mengapa kami mampir ke sini? Sederhana saja. Ada kerinduan suatu saat ini menjadi tempat kuliah saya. Rachma juga saya rasa. Secara khusus saya menaikkan doa di depan pintu masuk utama kampus ini, berdoa supaya suatu saat saya bisa ada di kampus ini untuk melanjutkan studi saya. Padahal menaikkan doa bisa dimana saja ya. Ini menunjukkan 'sangking' pengennya kuliah disini nih. Tapi, semoga ya. Amin.

Senja jelang malam di sebuah lorong kampus QUT


Ternyata, kampus untuk Ilmu Perpustakaan dan Informasi yang bernaung di bawah fakultas Science & Technology QUT berada di Garden Points di George Street. Jadi kami berjalan membelah kampus utama hingga bertemu dengan pintu di sisi lain yang berdekatan dengan taman kampus.

Bangunan perkuliahannya berada di seberang saya.


Setelah melihat gedung perkuliahan impian, kami melanjutkan perjalanan kami. Saya melihat sebuah sinagog persis di samping kampus tadi. Selama ini saya hanya mendengar kata sinagog dalam cerita Alkitab, baru sekarang melihat bangunannya. Mirip dengan geraja kecil. Jaman dulu, di sinagog Tuhan Yesus mengajar orang-orang. Dan di sinagog ini pula para ahli-ahli kitab belajar, bertemu dan berdiskusi. Saya bertanya-tanya apakah fungsinya masih sama sinagog dulu dan sekarang.



Dari sini, kami berjalan hingga akhirnya kami tiba di keramaian Queen Street. Tujuan terakhir untuk beli oleh-oleh [lagi]. Setelah itu, kami naik bis pulang. Lelah, tapi puas bisa mengunjungi tempat-tempat yang ingin kami datangi.